Minggu, 04 Desember 2011

pembudidayaan ikan jatim

Antusiasme Pembudidaya Ikan Jatim

Tingkat konsumsi ikan masyarakat Jatim sepanjang 2009 sampai 2010 terjadi kenaikan sebesar 10,9 %
Sudah 4 tahun terakhir Yanto berprofesi sebagai pembudidaya lele di wilayah Jombang, Jawa Timur (Jatim). Setiap bulan ia bisa meraup keuntungan sebesar Rp1.500.000 untuk setiap ton lele yangia jual. Dalam sebulan Yantomengaku mampu memanen 17 - 20 ton lele konsumsi. Itu artinya keuntungan yang bisa diperoleh Yanto perbulan mencapai  Rp 25.000.000.
Tak hanya Yanto yang dapat menikmati keuntungan dari hasil budidaya ikan air tawar di Jatim. Gito, seorang pembudidaya ikan gurami mengaku dalam setahun ia bisa 2 kali panen gurami dengan ukuran 3 - 4 ons. Total  ikan yang dipanen kurang lebih 10 ton perbulan. Harga jual gurami sekarang ini Rp 18.000 – 19.000/kg. MenurutGito harga tersebut masih lumayan dibanding 2 bulan lalu yang hampir menyentuh Rp 15.000/kg. “Kalau harga sudah menyentuh harga tersebut, maka keuntungan akan tipis,” terangnya.
Lalu ada juga Huda dengan budidaya ikan bandengnya. Ia mengungkapkan keuntungan yang diperolehnya memang tidak terlalu besar. Namun karena budidaya bandeng memiliki tingkat risiko yang kecil dan bandeng bisa juga dijual dalam bentuk presto atau bandeng tanpa duri, jadi ada nilai tambah tersendiri.
Denganadanya nilai tambah tadi, tambah Huda, permintaan bandeng yang berasal dari luar Gresik hampir 60 %, dan sisanya untuk pasar lokal. Berbeda dengan Yanto, permintaan pasar akan lele lebih banyak berasal dari lokal yaitu kira kira 80 % dan sisanya ke luar Jombang.

Potensi Perikanan Jatim
Menurut Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Jatim, Kardani tingkat konsumsi masyarakat Jatim di 2009 sebesar 17,31 kg/kapita/tahun menjadi 19,2 kg/kapita/tahun di 2010. “ Jadi ada kenaikan sebesar 10,9  %dan potensi untuk peningkatan masih terbuka,” ujarnya.
Senada dengan Kardani, Sales Manajer Aquaculture PT Cargill Indonesia Edy Prijono berpendapat, potensi pasar di Jatim cukup menyebar di berbagai daerah seperti Gresik, Lamongan, Sidoarjo, Jombang, Tulungagung, Kediri, Blitar dan lain sekitarnya. “Pembudidaya lele yang paling banyak ada di Jawa Timur ini,” terangnya.
Ia menilai para pembudidaya ikan petani  di Jatim masih tetap antusias untuk melanjutkan budidaya ikan mengingat prospek ke depan akan semakin membaik. Hal ini dibenarkan oleh Gito, ia mengatakan tren perkembangan budidaya ikan air tawar khususnya gurami memang bertambah terus. “Asal dengan syarat harga terus stabil dan cuaca dapat kompromi, ” tegasnya.
Apalagi menurut Gito, permintaan pasar gurame kebanyakan datang dari luar Tulungagung, seperti Surabaya, Jakarta, Bandung, Jogjakarta,dan Solo. “Hampir 100 % pasar permintaan datang dari luar, artinya pasar masih terbuka lebar,” jelasnya.

Tantangan Budidaya
Terkait tantangan usaha budidaya perikanan, menurut Yanto yang paling dirasakan saat ini adalah perubahan cuaca. “Akibat dari cuaca yang tidak menentu  ikan jadi mudah terserang penyakit dan mati,” terangnya.
Senada dengan itu,Gito menuturkan faktor cuaca sangat mempengaruhi harga jual ikan., menurut Gito jika waktu musim panen antar pembudidaya yang satu dengan yang lain bersamaan. “Maka otomatis harga jual ikan akan rendah karena kelebihan produksi,apalagi ditambah dengan perdagangan yang kurang sehat sehingga harga tidak bisa stabil,” tambah Gito. Ia berharap pemerintah maumembuat suatu wadah untuk memonitoring harga ikan dipasaran.

0 komentar:

Poskan Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More